Selasa, 15 Juni 2010

Keindahan Purwakarta


Untuk mewujudkan “Purwakarta Berkarakter”, Kabupaten Purwakarta akan ditata dengan satu konsep terpadu yang digali dari budaya Purwakarta tempo dulu.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purwakarta berencana menciptakan Kota Purwakarta menjadi kota yang memiliki ruang publik yang memadai dengan cara menata dan mengembangkan ruang yang sudah ada. Bupati Dedi Mulyadi SH mengawali penataan dari lingkungan Pendopo tempat Bupati berkantor, Alun-alun Kiansantang. Tempat itu kini menampilkan wahana baru yang didukung pekarangan dengan arsitektur penuh pesona. Dilengkapi sarana pos keamanan di dua pintu masuk Pendopo, parkir dan kantin serta ruang pedagang tertentu yang dibuat sedemikian rupa hingga menciptakan kantor yang indah dan modern. Jalan masuk disambut oleh 3 gapura, menggambarkan budaya khas Sunda. Lapangan upacara Kiansantang kini dilengkapi air mancur serta lampu hias yang memberi berbagai makna bahwa Purwakarta sedang menuju kedigjayaan.



Langkah Pemkab Purwakarta menata ruang publik ini, menurut Kasat Satpol PP Drs Budi Bunyamin, juga mendapat dukungan yang tinggi dari masyarakat luas. Hal itu terbukti dengan kerelaan para pedagang yang memakai tempat tersebut ketika dilakukannya penataan awal alun-alun secara mendadak akhir Desember 2008 hingga awal Januari 2009 lalu. Menurut Bunyamin, waktu itu Satuan Satpol PP harus menghentikan kegiatan sekitar 400 pedagang kaki lima di lingkungan pendopo. Tanpa melakukan perlawanan, para pedagang saat itu menghentikan dan mengalihkan usahanya ke areal Situ Buled demi terlaksananya penataan pembangunan lingkungan kantor bupati tersebut.

Kepala Sub Bagian (Kasubag) Pemberitaan Bagian Humas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purwakarta, Jaya Pranolo S.STP, M.Si, kepada Berita Indonesia, menjawab pertanyaan publik tentang perombakan konsep bangunan lingkungan Pendopo menjelaskan, sudah menjadi komitmen Bupati Dedi Mulyadi SH untuk membuat ruang publik yang memadai dengan konsep terpadu, khusus di Ibukota Kabupaten Purwakarta. Konsep dibuat memiliki arti sosiologis dan psikologis bagi masyarakat yang digali dari budaya Purwakarta tempo dulu.

Ini merupakan suatu langkah awal dalam upaya mewujudkan Purwakarta berkarakter dengan melestarikan produk-produk bernilai sejarah tinggi, hingga pembangunan kota yang dimaksudkan memenuhi unsur filosofi pembangunan masyarakat Sunda yang berbunyi: ’’Bumi Manjing Ka Langitna, tilangit seah hujana, lembur subur kota bagja, masjid jeung diri ngahiji, harta geus ngawujud harti, hokum geus ngawujud adil, nyanding pamingpin ka rahayat, pandita ajeg wiwaha, ucap- jeung lengkah sarua, pitutur ngawangun subur, ayat ngawujud adad.’’

Penataan ruang publik yang kini sedang bergulir, menurut Jaya Pranolo, mencakup kawasan Alun-Alun Kiansantang, Situ Buleud dan Situ Wanayasa. Situ Buleud yang dalam bahasa Sunda berarti telaga berbentuk bulat atau lingkaran, terletak di pusat Kota Purwakarta, tidak jauh dari Alun-alun dan Pendopo seluas empat hektare.

Jika menilik riwayatnya, Situ Buleud ini termasuk telaga purba. Konon, ketika wilayah kota Purwakarta masih berupa rimba belantara, Situ Buleud adalah tempat kubangan (mandi) badak. Namun, pada tahun 1830 - seiring pemindahan Ibukota Karawang dari Wanayasa ke Sindangkasih - Bupati ketika itu, R.A. Suriawinata membangun Situ Buleud sebagai telaga penghias kota. Kini Situ Buleud telah dibangun dan ditata kembali oleh Pemkab Purwakarta menjadi lebih indah dan nyaman.

Tidak hanya sebagai hiasan kota, tetapi rimbunan pohon di sekeliling Situ juga dimaksudkan menjadi paru-paru kota. Di sekeliling telaga, dibangun area untuk olah raga jalan kaki, bersantai dan rekreasi. Situ Buleud, taman kota yang indah dan menjadi kebanggaan Kota Purwakarta ini oleh Pemkab Purwakarta ditetapkan sebagai ikon Purwakarta. Untuk itu, pembangunannya terus dilanjutkan dengan membangun berbagai fasilitas pendukung.

Tempat wisata publik lainnya yang juga mendapat prioritas dari Pemkab Purwakarta, menurut Jaya Pranolo, salah satunya adalah Situ Wanayasa. Telaga seluas 7 hektare ini menyajikan alam yang romantis. Panoramanya, ibarat alunan musik yang menyentuh kalbu. Dari telaga ini, Gunung Burangrang tampak di kejauhan. Warnanya yang hijau kebiruan diselimuti kabut tipis menunjukkan pesona yang memukau. Keindahan tidak sebatas pada pandangan mata, tetapi juga sangat menyejukkan hati dan perasaan.

Letak Situ Wanayasa ini 30 kilometer dari pusat kota Purwakarta. Bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi, angkutan umum ataupun bus. Situ Wanayasa, telaga alam yang menjadi sumber irigasi bagi areal pertanian di Kecamatan Wanayasa dan sekitarnya, itu juga menjadi salah satu objek wisata kebanggaan Kabupaten Purwakarta.

Di lokasi Situ Wanayasa ini terdapat sebuah pulau kecil yang dirimbuni hutan pinus. “Jika tidak sedang hujan. Tatkala angin bertiup agak kencang, lamat-lamat akan terdengar suara angin mendengung di sela-sela daun pinus itu. Indah, sangat indah,” urai Jaya sedikit berpromosi. BND (Berita Indonesia 70)


Sumber:
http://www.beritaindonesia.co.id/daerah/keindahan-purwakarta/
6 September 2009
15 Juni 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar